INTRO

Posted in Sketsa Kehidupan on March 31, 2011 by Trah Langit

And in the end, the love we take is equal to the love we make..

~BEATLES~

Tentang Cinta

Posted in Trah Note with tags on May 27, 2012 by Trah Langit

Suatu hari aku mendapat kabar dari Jakarta. Kabar yang sangat mengejutkan dan dalam beberapa menit diriku seperti dibawa terbang jauh menuju tahun-tahun dibelakangku, menuju masa remaja dan sekejap menuju kemasa kecilku sebagai seorang anak yang tidak mengerti apa-apa soal hidup dan kehidupan.

Kabar kalau ayahku mengalami kecelakaan tragis hingga sampai membuatnya lumpuh total karena patah tulang punggung dan patah tulang pinggul. Sementara si penabrak telah kabur menghilang tidak bertanggung jawab atas kejadian tragis tersebut. Ya, ayahku korban tabrak lari. Lama aku merenungi kejadian yang menimpa ayahku. Semua terasa sunyi untuk sesaat.

Kisah kehidupan keluargaku dimasa lalu dan kehidupan masa kecilku seperti terbentang luas. Aku menyaksikan setiap detail tawa canda dan bagaimana kebahagiaan itu sekejap berubah menjadi penderitaan yang panjang sejak aku berumur 6 tahun. Aku tidak mengerti kenapa semua mendadak berubah begitu cepat.

Dulu, disaat prestasi kerja ayahku semakin bagus, ia tergoda oleh perempuan rekan kerja sekantornya. Semenjak saat itu sikap ayahku berubah total, aneh memang, lama-lama ia seperti tidak mengenal aku sebagai anaknya juga sangat berambisius menyingkirkan ibu juga anak-anaknya.

Berbagai cara telah dilakukan ayah dan perempuan itu dengan menggunakan jasa orang pintar yang dibawa dari kampung si perempuan itu. Akhirnya mereka berhasil menyingkirkan kami sekeluarga dari rumah dan rumah yang awalnya tempat tinggal kami telah dikuasai si perempuan itu. Ditengah kebingungan karena ibu sudah tidak punya uang untuk meneruskan hidup kami, empat orang kakak-ku dikirim kekampung untuk diselamatkan pendidikannya oleh kakek dari ibu-ku.

Sementara tinggallah aku bersama ibu dan adik bungsu. Ditengah-tengah kesulitan ekonomi memaksa ibu untuk menitipkan aku dan adikku kepada saudara di Jakarta. Ya semenjak diusir ayah dari rumah, ibu, aku dan adikku sudah biasa kelaparan di Jakarta. Akhirnya ibupun bekerja sebagai baby sitter dirumah pengusaha di daerah Cilincing Jakarta Utara. Pada saat ibu bekerja, tanpa sepengetahuan ibu, aku dan adikku dijemput ayah untuk ikut tinggal dirumah barunya dengan istri mudanya. Oleh karena itu hampir selama 2 tahun aku dan adikku berhenti sekolah karena ayah dan istri mudanya tidak memperhatikan pendidikan kami.

Karena aku dan adikku masih kecil, semua kejadian yang kami lihat terasa aneh sekali. Menyaksikan ayahku tidur tidak dengan ibuku lagi. Menyaksikan orang lain tiba-tiba datang dalam kehidupan kami dan menghancurkan segala kebahagiaan yang pernah ada. Aku dan adikku seperti kehilangan sesuatu tapi kami belum mengerti apa dan mengapa waktu itu. Kami diperlakukan tidak manusiawi oleh istri muda ayahku. Kadang sengaja membiarkan kami kelaparan sepanjang hari tanpa sepengetahuan ayah. Setelah dua tahun tinggal bersama ayahku, datanglah ibu mengambil kami kembali dan menangis melihat keadaan kami berdua yang sangat kurus dan tidak terawat kesehatannya. Tinggal bersama ibu akhirnya kami bisa melanjutkan sekolah lagi. Hmm..sekejap mengingat semua itu aku menghela nafas dalam. Mengingat masa lalu yang seperti baru kemarin saja rasanya. Apa artinya?

Tidak, disini aku tidak bermaksud untuk mengumbar cerita tentang kesedihan. Penderitaan itu telah menjadi hal biasa dan bukan ajang untuk mengasihani diri. Aku ingat sekali sewaktu masih sekolah sd dan hidup berpindah-pindah kontrakan aku melihat diriku dahulu pergi berjalan kaki untuk mencari uang untuk jajan dengan berjualan koran dan menjadi penjual kantong plastik dipasar-pasar becek. Berjalan jauh dari kampung ke kampung menjajakan koran. Disana aku bertemu beberapa keluarga langganan koranku yang selalu menawarkan diri agar aku mau jadi anak angkat mereka. Setiap aku mengingat ibu dan adikku aku langsung menolak tawaran mereka. Aku lebih memilih hidup sama-sama lapar, sama-sama susah dengan ibu dan adikku.

Kini ayahku terbaring lemah tak berdaya. Kadang air matanya mengalir begitu saja diujung kedua kelopak matanya. Setiap ibu dan kami datang menengok keadaannya ia terus memanggil nama ibu-ku dengan suara yang lemah dan mengiba. Seperti ada kepedihan yang mendalam yang ingin disampaikannya. Aku merasa kalau ayah begitu menyesali semuanya, ia tidak menyangka dengan musibah yang dialaminya. Lembar demi lembar perbuatannya dulu meninggalkan, menyia-nyiakan dan menelantarkan kami kini mulai dibaca olehnya. Dibaca perlahan dalam hati dengan rasa sakit, dibaca dalam ketidakberdayaan dan segala sesuatunya kini telah terlambat. Sayup-sayup ayah terus memanggil nama ibu.

Disini aku bepikir tentang cinta. Tentang suatu yang yang tidak pernah kumengerti. Jika ada yang bertanya apakah itu cinta? Mungkin akan sulit menjawabnya. Namun jika ditanya siapakah yang kamu cintai? Mungkin beberapa dari kita akan terdiam dan menyesalinya semuanya. Melihat kisah cinta ayah dan ibu, aku melihat layar lebar kisah cinta yang luar biasa namun berakhir tragis. Ibu sering bercerita betapa dia membenci ayah setengah mati dan tidak akan memaafkan segala perbuatannya. Dalam jeda yang singkat kemudian ibu terisak dan menghela nafas panjang. Disana aku mengerti, betapa ibu sangat mencintai ayah.

Ibu tidak pernah berpikir untuk balas dendam melainkan lebih memilih berupaya keras menyelamatkan pendidikan anak-anaknya sendirian. Dulu, dengan wajahnya yang cantik ibu tidak pernah berfikir untuk menikah lagi mencari jalan keluar kesulitan ekonomi demi alasan apapun. Aku tahu ibu mencintai ayah dan ibu tidak bisa membantahnya. Hmm…siapa yang tak kenal cinta? Bodohkah ibu mempertahankan cintanya? Lalu kutanya kepada diri sendiri…ya cinta pernah bikin aku bodoh juga…bodoh dan konyol sekali. Walau kita sudah belajar dari ribuan kisah cinta orang lain agar terhindar dari kebodohan dan kekonyolan karena sisi pahit cinta. Tetap saja pada kenyataannya belajar menyikapi cinta secara bijaksana tidak semudah itu. ‘Coz love don’t need philosophy.

Lalu dimana rahasia sebenarnya? Rahasia yang menjawab kebenaran sebenarnya tentang cinta? Melihat apa yang terjadi dengan ayahku sekarang aku jadi termenung. Rahasia kehidupan yang ayahku tidak bisa menerkanya. Ayah tak akan sanggup melihat apa yang kelak akan terjadi dikemudian hari pada hidupnya. Aku berusaha menempatkan posisiku sebagai ayah yang terbaring lemah diatas ranjang seperti layaknya sosok bayi yang rapuh. Apa yang aku pikirkan sebagai dirinya? Cinta itu bukan omong kosong bukan?

Cinta itu bukan sesuatu yang dengan mudahnya bisa dilupakan begitu saja…dan jangan sesekali meremehkan cinta. Menghancurkan cinta sama artinya dengan menghancurkan hidup seseorang. Mungkin menurut kita cinta itu suatu hal yang sepele dan cukup dinikmati sebentar layaknya sekedar menikmati lagu-lagu cinta dan sesekali sekedar memanjakan mata menonton film-film cinta. Tapi cinta mungkin menjadi berbeda bagi beberapa orang diluar sana yang menyadari dan meresapi kejadian, keadaan dan kehidupannya dihari ini…apa yang terjadi dalam hidup kita dihari ini mungkin saja karena kekeliruan kita dalam menyikapi cinta di masa lalu.

Berbahagialah kepada setiap orang yang tidak meremehkan dan menyia-nyiakan cinta disepanjang sisa waktu hidupnya…karena jauh didepan kita, kehidupan itu akan memberikan kejutan-kejutan luar biasa yang tak pernah kita duga sebelumnya. Berbahagialah kepada mereka yang kembali diberi kepercayaan untuk mengukir cinta yang lebih baik setelah melalui banyak kegagalan cinta dimasa lalu. Dan Berbahagialah kepada sedikit dari mereka yang telah berani mempertahankan keyakinannya dijalan cinta apa-pun rintangan kesulitannya. Jika direnungkan kembali indah sekali rahasia-Nya bukan? Hidup selalu penuh dengan keajaiban. Amin.

Bilik Hati, 27 Mei 2012.

Bunga Dan Para Pecinta

Posted in Sketsa Cinta with tags on March 27, 2012 by Trah Langit

Bunga,
Lagu-lagu saja tak pernah cukup bukan?
Gelombang musim pecinta tak kunjung reda
Tidak melulu selalu indah dalam rasa dan kata
Kadang debur ombaknya suarakan kerinduan
Kadang debur ombaknya suarakan perpisahan
Kadang debur ombaknya suarakan penyesalan

Bunga,
Ruang apa lagi yang menjadi baru setelah badai?
Suara siapa yang menggairahkan setelah kisah usai?
Yang tersisa mencipta lagu-lagu manik-manik cinta
Dan para pecinta berkelana jauh menuju dunia baru
Ada sesuatu harus dikerjakan sebagai harapan baru
Dan sesuatu harus berjalan tinggalkan yang berlalu

Bunga,
Mungkin saja suatu hari cinta itu menjadi lelucon
Kesedihan itu dikemas tawa sinis dan kebencian
Cukup lagu-lagu cinta saja yang menikmati cinta
Cukup syair-syair saja yang mengutuk kisah cinta
Cukup novel-novel atau film-film mewakili kisahnya
Sorot mata para pecinta jauh menghilang ke ujung dunia

Saudara Lama

Posted in Trah Note on February 11, 2012 by Trah Langit

Menjelang sore handphone berdering, tak disangka-sangka ternyata telpon itu dari seseorang yang sangat kukagumi selera humornya, kedalaman pemikirannya dan juga sosok yang low profile yang pernah kukenal semasa kuliah. Berkat dari beliau juga-lah pertama kali aku mengenal dunia petualangan dari sudut dan cara yang berbeda. Darinya aku mengenal tebing dan gunung.

Kami saling bertukar kabar dan aktifitas sekarang. Mendengarnya dia masih eksis didunia petualangan setelah 8 tahun meninggalkan kota Yogyakarta membuatku salut atas dedikasinya pada bidang yang digelutinya. Beliau angkatan senior jauh diatasku dengan ciri khas penampilannya yang unik, cara bicaranya dan terutama pemikirannya-lah yang membuat beliau banyak dibutuhkan teman-teman, terutama sumbangsih pemikiran menyangkut pariwisata petualangan dan lingkungan hidup.

Mengenal sosok beliau, pemikiran dan kesederhanaan hidupnya telah banyak mempengaruhi jalan hidupku sebagai saudara berpetualangnya selama di Yogyakarta. Terpikir olehku bahwasanya kehilangan satu orang didunia maka dunia juga akan kehilangan saudara, harta pengetahuan dan pemikirannya. Semoga beliau selalu diberi kesehatan dan umur panjang. Aku sangat berterima kasih dan bersyukur menjadi salah satu orang yang terpilih sebagai saudara dalam berpetualang dialam bebas semasa kuliah dulu. Terima kasih Brother.

Damai

Posted in Sketsa Keindahan with tags on February 11, 2012 by Trah Langit

Damai,
Bumi tau itu..
Suaramu
Tentramkan jiwa.

Utopia Sunyi

Posted in Sketsa Kesunyian with tags , , on November 16, 2011 by Trah Langit

Jika engkau pergi kembali,
Jangan lupa tinggalkan kunci
Di sudut maya..di jagat sunyi
Di segala rupa persembunyian..
Suka..duka..dan semua tentangmu
Yang rasanya..
Tak mampu menampung kesendirian.

Demikianlah

Posted in Sketsa Kehidupan with tags , , on November 15, 2011 by Trah Langit

Demikianlah..
Aku masih menghimpun kerlip gemintang
Aku masih menerawang cahaya rembulan
Aku masih mengarungi lautan tiada batas
Aku masih mencurahkan segenap pikiran

Seperti halnya hempasan ombak lautan
Datang dan pergi..menggulung isi malam
Seperti keajaiban cahaya kunang-kunang
Terbang dan menghilang ditelan kesunyian
Aku jatuh kepada maha kerinduan terdalam

Demikianlah..
Ketetapan hati yang masih kutanam
Kepercayaan yang masih kugenggam
Tentang keyakinan yang masih kurasakan
Perjalanan ini jatinya telah direncanakan

Demikianlah..
Kemegahan langit yang melimpahkan hujan
Kebersahajaan bumi yang berbuah kebajikan
Meresap satu kebenaran yang tak tergoyahkan
Mencipta satu keindahan yang tak tergantikan

Dari Balik Layar

Posted in Sketsa Kehidupan with tags , , on October 22, 2011 by Trah Langit

Dan lihatlah sendiri
Bagaimana rasa..
Bagaimana rupa..
Bagaimana jika..
Bagaimana lupa..

Dan lihatlah sendiri
Untuk kenal lebih
Permainan pikiran
Dari balik layar
Selepas pertunjukkan.

Anda puas?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.